GLITTER

Makna Pelecehan Seksual dan Jerat Hukum Bagi Pelakunya

June, 8 2018 | Glitter

Apa itu pelecehan seksual? Dan apakah pelaku bisa dipidana?

Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan berita viral penyanyi dangdut Via Vallen yang merasa dilecehkan oleh pemain bola yang diduga Marko Simic.

Via mengunggah IG Stories berisi personal chatnya dengan sang pemain bola asal klub Persija tersebut melalui DM Instagram. Isi chat tersebut menunjukkan adanya ajakan yang tak senonoh kepada Via Vallen.

www.instagram.com/viavallen

Setelah IG Stories tersebut diunggah, nyatanya netizen menanggapi dengan berbagai macam perspektif. Ada yang mendukung Via karena ia berani bicara dan melawan pelecehan yang ia alami.

Namun tak sedikit yang menganggap kalau pelecehan tersebut merupakan hal biasa bahkan menganggap tindakan yang Via lakukan lebay alias berlebihan.

Pexels/rawpixel.com

Sebenarnya apa sih makna pelecehan seksual itu sendiri?

Diantara 15 bentuk kekerasan seksual menurut Komnas Perempuan, salah satu diantaranya adalah tindakan pelecehan seksual. Pelecehan seksual sendiri diartikan sebagai berikut:

Tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban.
Ia termasuk  menggunakan siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, mempertunjukan materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual.
Sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.

Sementara itu menurut KBBI, pelecehan seksual dapat diartikan sebagai pelanggaran batasan seksual orang lain atau norma perilaku seksual.

Pexels/Pixabay

Apakah kasus pelecehan bisa dijerat hukum?

Jawabannya jelas, bisa.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tidak dikenal istilah pelecehan seksual melainkan istilah perbuatan cabul.

Perbuatan cabul dalam KUHP diatur dalam Buku Kedua tentang Kejahatan, Bab XIV tentang Kejahatan Kesusilaan (Pasal 281 sampai Pasal 303).

Seperti perbuatan cabul yang dilakukan laki-laki atau perempuan yang telah kawin (Pasal 284), Perkosaan (Pasal 285), atau membujuk berbuat cabul orang yang masih belum dewasa (Pasal 293).

Pexels/Lum3n.com

Menurut R. Soesilo dalam bukunya KUHP Serta Komentar-Komentarnya (Penerbit Politeia, Bogor, 1991), “Yang dimaksudkan dengan perbuatan cabul adalah segala perbuatan yang melanggar kesusilaan (kesopanan) atau perbuatan yang keji, semuanya dalam lingkungan nafsu birahi kelamin, misalnya: cium-ciuman, maraba-raba anggota kemaluan, meraba-raba buah dada dsb.” 

Pernyataan tersebut merujuk Pasal 289 KUHP yang berbunyi, “Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul, dihukum karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan dengan pidana selama-selamanya sembilan tahun.”

Maka dari itu unsur penting dari tindakan pelecehan seksual adalah adanya ketidakinginan atau penolakan pada apapun bentuk-bentuk perhatian yang bersifat seksual.

Sehingga bisa jadi perbuatan seperti siulan, kata-kata, komentar yang menurut budaya atau sopan santun setempat adalah wajar.

Namun, bila itu tidak dikehendaki oleh si penerima perbuatan tersebut maka perbuatan itu bisa dikategorikan sebagai pelecehan seksual.

Jadi jangan pernah anggap sepele pelecehan seksual ya. Karena pelecehan seksual tetaplah salah satu jenis kekerasan seksual dan tindak pidana sehingga siapapun yang melakukannya bisa dipidana.


Berbagi Yuk!